
Kalimat Aktif vs. Pasif: Kapan dan Bagaimana Menggunakan Masing-masing dengan Efektif
Kuasai kalimat aktif dan pasif. Pelajari kapan masing-masing tepat, cara mengidentifikasinya, dan ubah prosa Anda untuk dampak dan kejelasan maksimal.
"Kesalahan telah dibuat." Frasa ini telah menjadi terkenal buruk dalam politik dan komunikasi korporat sebagai contoh utama penghindaran tanggung jawab melalui kalimat pasif. Tidak ada yang membuat kesalahan—kesalahan itu hanya terjadi begitu saja. Ini adalah sulap linguistik yang terbaik.
Tapi inilah masalahnya: kalimat pasif tidak secara inheren jahat. Seperti alat apapun, ia memiliki tempatnya. Masalah muncul ketika penulis menggunakannya tanpa sadar, menciptakan prosa yang lemah dan bertele-tele yang mengaburkan makna dan membosankan pembaca.
Hari ini, kita menyelesaikan perdebatan aktif versus pasif sekali dan untuk selamanya. Anda akan belajar mengidentifikasi setiap bentuk secara instan, memahami kapan menggunakannya secara strategis, dan mengubah tulisan Anda dari kabur dan bertele-tele menjadi jelas dan meyakinkan.
Memahami Dasar-dasar
Apa itu Kalimat Aktif?
Dalam kalimat aktif, subjek melakukan tindakan. Strukturnya mengikuti pola yang jelas: subjek → verba → objek. Pelaku mengambil posisi utama.
Contoh:
- Manajer menyetujui anggaran.
- Sara menulis laporan.
- Badai menghancurkan gedung.
Kalimat aktif menciptakan kalimat yang langsung dan energik. Pembaca segera memahami siapa melakukan apa.
Apa itu Kalimat Pasif?
Dalam kalimat pasif, subjek menerima tindakan. Strukturnya terbalik: objek → verba → (oleh subjek). Pelaku sering menghilang sepenuhnya.
Contoh:
- Anggaran disetujui (oleh manajer).
- Laporan ditulis (oleh Sara).
- Gedung dihancurkan (oleh badai).
Mengapa Kalimat Aktif Biasanya Menang
Kejelasan dan Keterusterangan
Kalimat aktif menghilangkan ambiguitas tentang siapa yang bertanggung jawab atas tindakan.
Keringkasan
Kalimat aktif biasanya menggunakan lebih sedikit kata daripada kalimat pasif.
Energi dan Keterlibatan
Kalimat aktif menciptakan prosa yang dinamis dan menarik yang mendorong pembaca maju.
Kapan Kalimat Pasif Bekerja Lebih Baik
1. Ketika Pelaku Tidak Diketahui atau Tidak Relevan
Kadang kita tidak tahu siapa yang melakukan tindakan, atau tidak penting.
2. Ketika Anda Ingin Menekankan Objek
Kadang penerima tindakan layak mendapat fokus.
3. Untuk Menjaga Nada Diplomatik
Kalimat pasif dapat melunakkan kritik atau menghindari menyalahkan langsung.
4. Dalam Penulisan Ilmiah dan Akademik
Penulisan ilmiah secara tradisional menggunakan kalimat pasif untuk menjaga objektivitas.
Kesimpulan
Ini bukan tentang memilih satu di atas yang lain. Penulis terampil menggunakan kedua bentuk secara strategis, memilih aktif untuk kejelasan dan dampak dan pasif ketika melayani tujuan tertentu.
Aturan sederhana: Gunakan kalimat aktif sebagai default. Beralih ke pasif hanya ketika ada alasan yang jelas—penekanan, diplomasi, tradisi ilmiah, atau pelaku yang tidak diketahui.
Ingat, tulisan terbaik tidak terlihat. Pembaca tidak memperhatikan bentuk mana yang Anda gunakan—mereka hanya mengalami kejelasan dan dampak yang dihasilkan dari pilihan Anda.
Siap mengubah konten yang dihasilkan AI menjadi tulisan yang alami dan manusiawi? Humantext.pro menyempurnakan teks Anda secara instan, memastikan terbaca alami sambil melewati detektor AI. Coba humanizer AI gratis kami hari ini →
Artikel Terkait

Your Complete Guide to the Grammarly Plagiarism Checker
Discover how the Grammarly plagiarism checker works to ensure originality. Learn how to use it, interpret reports, and see how it compares to top alternatives.

The 12 Best Free AI Detector Tool Options in 2026
Discover the top 12 free AI detector tool options to verify your content. Our guide compares accuracy, features, and best use cases for writers and students.

Top 12 GPT Zero Alternative Tools for 2026: A Practical Guide
Searching for a GPT Zero alternative? Explore our detailed list of 12 top AI detectors with real-world examples, accuracy insights, and pricing comparisons.
